sEntra, 04 Januari 2026 – Istilah golongan kiri dan golongan kanan kerap muncul dalam diskursus politik, baik di media, ruang akademik, maupun percakapan sehari-hari. Sayangnya, kedua istilah ini sering dipakai secara simplistis—sekadar label politik untuk menilai individu atau kelompok secara sepihak. Golongan kiri, misalnya, kerap dicitrakan berbahaya atau negatif, sementara golongan kanan dianggap lebih “aman” dan moderat. Cara pandang seperti ini membuat perdebatan politik kehilangan kedalaman dan cenderung terjebak dalam stigma.
Asal-usul Kiri dan Kanan: Dari Revolusi Prancis
Istilah kiri dan kanan pertama kali dikenal pada masa Revolusi Prancis (1789). Dalam sidang Majelis Nasional, para pendukung perubahan radikal seperti penghapusan monarki absolut dan perluasan kesetaraan hak warga negara duduk di sisi kiri ketua sidang. Sebaliknya, mereka yang ingin mempertahankan tatanan lama, termasuk kekuasaan raja dan peran dominan gereja, menempati sisi kanan.
Dari konfigurasi tempat duduk inilah lahir pembagian simbolik kiri dan kanan. Sejak itu, kiri identik dengan dorongan perubahan dan reformasi sosial, sementara kanan diasosiasikan dengan upaya menjaga tradisi, stabilitas, dan tatanan yang sudah ada. Meski konteks politik global telah banyak berubah, pembagian ini masih digunakan hingga kini sebagai kerangka umum memahami perbedaan orientasi politik.

Golongan Kiri: Tidak Selalu Radikal
Golongan kiri umumnya memperjuangkan keadilan sosial dan pemerataan kesejahteraan. Mereka melihat bahwa ketimpangan ekonomi dan sosial bukan semata-mata kesalahan individu, tetapi juga akibat dari sistem yang tidak adil. Karena itu, kelompok kiri cenderung mendukung peran negara dalam menyediakan layanan publik seperti pendidikan, kesehatan, dan perlindungan tenaga kerja.
Masalahnya, golongan kiri sering disamakan dengan satu ideologi tertentu dan langsung dicap negatif. Padahal, tidak semua pemikiran kiri bersifat ekstrem atau menolak demokrasi. Di banyak negara, kebijakan yang kita anggap wajar seperti jaminan kesehatan nasional, upah minimum, dan hak cuti pekerja lahir dari gagasan kiri yang dijalankan secara demokratis.
Di Indonesia, pandangan negatif terhadap kiri tidak bisa dilepaskan dari sejarah politik masa lalu. Akibatnya, istilah “kiri” sering dihindari atau digunakan sebagai tuduhan. Hal ini membuat diskusi tentang keadilan sosial menjadi sulit, karena ide-ide tertentu langsung ditolak sebelum dibahas secara rasional.
Golongan Kanan: Menjaga Stabilitas, Tapi Perlu Dikritisi
Sementara itu, golongan kanan biasanya menekankan tanggung jawab individu, kebebasan pasar, dan nilai-nilai tradisional seperti keluarga dan agama. Pandangan ini dianggap penting untuk menjaga ketertiban dan stabilitas masyarakat. Dalam bidang ekonomi, golongan kanan percaya bahwa pasar yang bebas dapat mendorong pertumbuhan dan inovasi.
Namun, pandangan kanan juga bukan tanpa masalah. Jika peran negara terlalu dibatasi, ketimpangan sosial bisa semakin besar. Tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk bersaing di pasar bebas. Karena itu, kebijakan yang terlalu berpihak pada pasar sering dikritik karena kurang melindungi kelompok yang lemah.
Label Politik Kiri dan Kanan Tidak Selalu Bertentangan
Dalam praktik politik saat ini, banyak orang tidak sepenuhnya berada di satu sisi. Seseorang bisa mendukung kebebasan ekonomi, tetapi juga setuju dengan perlindungan sosial. Ini menunjukkan bahwa kiri dan kanan bukanlah dua kotak yang kaku, melainkan cara untuk memahami perbedaan pandangan secara umum.
Yang terpenting bukanlah apakah suatu gagasan berasal dari kiri atau kanan, tetapi apakah gagasan tersebut adil, bermanfaat, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Politik yang sehat seharusnya memberi ruang bagi perbedaan pendapat tanpa saling memberi stigma.

Penutup
Menganggap golongan kiri selalu negatif adalah kesalahpahaman yang lahir dari sejarah dan ketakutan, bukan dari pemahaman yang utuh. Begitu juga dengan menganggap golongan kanan selalu benar dan aman. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan.
Dengan memahami makna kiri dan kanan secara lebih jernih, kita bisa berdiskusi politik secara lebih dewasa dan kritis. Perbedaan pandangan bukanlah ancaman, melainkan bagian dari proses mencari jalan terbaik bagi kehidupan bersama.
Referensi Bacaan
- Andrew Heywood, Political Ideologies: An Introduction
- Norberto Bobbio, Left and Right: The Significance of a Political Distinction
- Eric Hobsbawm, The Age of Revolution
- Kompas & Tempo – artikel analisis ideologi dan politik





