Di Balik Toga Akademik Universitas Widyatama: Lebih dari Sekadar Pakaian Wisuda

Simbol pencapaian, identitas, dan awal perjalanan baru

Picture112
SEBELUM & SESUDAH: Toga akademik Universitas Widyatama mengalami redesain pertama pada 2019. Desain baru (kanan) menampilkan logo universitas dan siluet yang lebih modern dibandingkan gaya klasik (kiri). (Meiga Maudina)

Bandung, 25 Januari 2026 – Ketika ratusan mahasiswa Universitas Widyatama berbaris di upacara wisuda mengenakan toga hitam dengan aksen warna fakultas masing-masing, mereka tidak sekadar mengikuti acara formal. Di balik kemegahan itu tersimpan filosofi yang dirancang dengan cermat, tradisi akademik, dan identitas institusi

Perubahan Bersejarah di Tahun 2019

Sejak 2019, Universitas Widyatama resmi menerapkan desain toga akademik baru, menandai redesain pertama dalam sejarah universitas. Menurut Hari Supriadi, S.T., M.Kom, Kepala Biro Akademik, perubahan ini dilakukan sebagai bentuk pembaruan dan penguatan identitas.

Picture2
Hari Supriadi, S.T., M.Kom, Kepala Biro Akademik, di kantornya tempat ia mengawasi prosedur wisuda termasuk proses distribusi toga. (Ardhzohal)

“Sejak 2019 ada perubahan desain toga akademik, dan desain ini baru diubah sekali,” jelasnya.

Bambang Eko Widyanto, S.T., M.T., Kepala Bagian Pengadaan dan Inventaris Biro Fasilitas, mengungkap motivasi di balik perubahan tersebut. “Desain sebelumnya klasik dengan lengan, topi, dan kerah yang jadul dan kaku. Tapi seiring waktu perlu ada pembaruan, jadi dibuatlah inovasi toga baru yang lebih menarik,” ujarnya.

Keputusan ini juga dipengaruhi tren di universitas lain. UNPAD mengubah warna toga untuk setiap jenjang akademik, UPI mengadopsi gaya Sunda, sementara ITB mempertahankan konsep klasiknya. “Widyatama juga melakukan inovasi untuk mengikuti perkembangan zaman,” tambah Bambang.

 

Desain Inspirasi Columbia dengan Identitas Widyatama

Picture3
Toga akademik Columbia University, yang ditandai dengan warna biru muda dan putih, menginspirasi redesain Widyatama dengan adaptasi pada skema warna dan desain topi. (Columbia University)

Desain toga baru tidak dibuat tanpa konsep. I Gede Nyoman Wisnu S, S.T., M.Sn, Kepala Biro Kemahasiswaan, mengungkap bahwa desain tersebut terinspirasi dari Columbia University, salah satu universitas prestisius di Amerika Serikat, namun tetap disesuaikan dengan identitas Widyatama.

“Terinspirasi dari Columbia University, hanya saja berbeda di warna dan bentuk topinya,” jelasnya.

Detail yang menarik: garis pada lengan toga memiliki makna. Mahasiswa diploma mengenakan garis tipis, mahasiswa sarjana mengenakan satu garis tebal, sementara toga tingkat doktor atau profesor memiliki tiga garis. “Salah satu pihak yang terlibat dalam mendesain toga adalah Ibu Sri Juniati, SE., MBA, Ketua Pembina Yayasan Widyatama,” tambah Wisnu.

Picture4
I Gede Nyoman Wisnu S, S.T., M.Sn, Kepala Biro Kemahasiswaan, membahas bagaimana Columbia University menginspirasi desain toga Widyatama sambil mempertahankan identitas Indonesia yang khas. (Gabriela)

Desain lama menggunakan medali dua warna sesuai fakultas. Kini, identitas fakultas tetap dipertahankan melalui warna pada toga, seperti biru untuk Fakultas Ilmu Budaya, mencerminkan karakter yang diharapkan pada lulusan

Filosofi Logo Widyatama pada Toga

Picture5 e1771750609196
Logo Universitas Widyatama yang ditampilkan dengan mencolok pada desain toga baru. Huruf “W” melingkar dengan gelombang air melambangkan misi universitas untuk mengembangkan dan menyebarkan pengetahuan. (Wikipedia)

Salah satu perubahan signifikan dalam desain baru adalah penampilan logo Universitas Widyatama yang mencolok, yang membawa makna filosofis yang mendalam.

Menurut wikipedia, logo tersebut terdiri dari huruf “W” yang membentuk lingkaran dengan gelombang air yang meluas, didukung oleh dasar bulan sabit yang kuat. Ini melambangkan Widyatama sebagai wadah yang memelihara dan mengembangkan potensi mahasiswa untuk menyebarkan pengetahuan di masyarakat.

Warna biru mewakili ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang, serta kekuatan dan tekad dalam menghadapi tantangan global. Sementara itu, warna merah bata melambangkan kekokohan dan nilai-nilai dasar yang kuat.

Dengan menempatkan logo ini pada toga, pakaian tersebut tidak hanya menjadi simbol kelulusan, tetapi juga cerminan identitas dan nilai-nilai Universitas Widyatama.

 

Sistem Kepemilikan: Praktis dan Bermakna

Berbeda dengan banyak universitas, Widyatama menerapkan sistem kepemilikan toga daripada sewa. Keputusan ini diambil dengan pertimbangan matang.

Bambang menjelaskan tiga alasan utama. Pertama, tidak ada jaminan toga yang dikembalikan akan tetap dalam kondisi asli, terutama karena banyak mahasiswa yang menyesuaikannya. “Ada mahasiswa yang memodifikasi toga mereka seperti gaya Harry Potter. Jika mereka ingin mengembalikannya, siapa yang akan mengembalikannya ke bentuk semula? Bagaimana jika ada bagian yang dipotong?” tanyanya.

Kedua, lulusan ingin menyimpan toga sebagai kenang-kenangan. Ketiga, biaya sewa hampir sama dengan pembelian.

Picture6 1
Bambang Eko Widyanto, S.T., M.T., menjelaskan alasan praktis di balik penerapan sistem kepemilikan toga, termasuk tren kustomisasi mahasiswa dan efisiensi biaya. (Gabriela)

Hari Supriadi menambahkan perspektif praktis: “Kami juga mempertimbangkan bahwa tidak semua mahasiswa berasal dari Bandung. Banyak yang dari luar kota atau pulau. Sistem kepemilikan tidak membebani mereka untuk mengembalikan toga.” Selain itu, universitas saat ini belum memiliki divisi khusus untuk pemeliharaan dan pencucian toga.

Dengan harga Rp1.300.000, mahasiswa dapat memiliki toga mereka sebagai kenangan yang bertahan lama sambil menghindari komplikasi administratif

Toga sebagai Simbol Akademik

Bagi komunitas akademik, toga memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar pakaian seremonial. Dr. H. Hendar, Drs., M.Pd., dosen di Program Studi Bahasa Inggris, menjelaskan bahwa meskipun toga tidak berasal dari Indonesia, toga telah menjadi bagian penting dari tradisi akademik.

“Sebenarnya toga akademik berasal dari tradisi Barat, tapi kita juga menggunakannya. Toga lebih kepada keseragaman pada momen tertentu,” ujarnya

Picture7
Dr. H. Hendar, Drs., M.Pd., dosen Program Studi Bahasa Inggris, merefleksikan peran toga dalam tradisi akademik dan representasi simbolisnya tentang kedewasaan. (Cindy)

Ia menambahkan bahwa warna toga memiliki filosofi. Warna gelap yang dominan—merah gelap, biru gelap—melambangkan kedewasaan dalam berpikir, fase dewasa yang telah dicapai mahasiswa.

Heri Heryono, S.S., M.Hum., Dosen dan Sekretaris Program Studi Bahasa Inggris, menggambarkan toga sebagai simbol monumental. “Toga adalah simbol pendidikan akhir atau sesi akhir dari perkuliahan. Simbol yang membanggakan, itulah mengapa berbeda dari pakaian lain, karena megah, monumental, dan mewah,” jelasnya dengan antusias.

Ia menekankan bahwa makna toga meluas melampaui mahasiswa. “Yang pertama adalah mahasiswa karena mereka mencapai titik tertinggi. Yang kedua adalah dosen karena mereka berhasil memimpin mahasiswa. Yang ketiga adalah orang tua dari sisi non-akademis. Ketiganya berhak, tapi yang disorot adalah mahasiswa.

 

Wisuda: Sebuah Akhir dan Awal

Kapan toga paling bermakna? Saat wisuda—momen yang Heri gambarkan dengan analogi menarik.

“Wisuda adalah titik akhir. Jika Pratama adalah titik awal, wisuda adalah titik akhir. Harus dirayakan, megah dan meriah. Toga adalah salah satu simbolnya,” ujarnya.

Picture8
Heri Heryono, S.S., M.Hum., menggambarkan toga wisuda sebagai lebih dari pakaian seremonial—sebuah simbol yang menandai akhir satu perjalanan dan awal perjalanan lainnya. (Ardhzohal)

Tetapi wisuda bukan hanya akhir. “Toga mewakili simbol kesuksesan dan juga tanda untuk memulai bab baru. Setelah mengenakan toga, ada bab-bab lain seperti bekerja. Jadi toga melambangkan langkah terakhir untuk akademis dan langkah pertama untuk kehidupan nyata,” lanjutnya.

Ada juga dimensi emosional yang tidak boleh dilupakan. “Ada mahasiswa yang memilih untuk tidak merayakan kelulusan, tapi ada juga orang tua yang usahanya harus dihargai. Mereka telah mengumpulkan uang, usaha, doa, keringat. Ketika mahasiswa selesai, itu harus dirayakan,” tambah Heri dengan empati

 

Harapan untuk Masa Depan

Dengan toga datang tanggung jawab dan harapan. Dr. Hendar berharap lulusan dapat menerapkan pengetahuan mereka sambil menjaga nama baik almamater mereka.

“Saya sangat ingin mahasiswa sukses dalam hidup mereka, tapi tidak hanya dalam akademis. Ada IQ, EQ, dan SQ. Pintar saja tidak cukup. Menurut psikolog, kurang dari 25% lulusan universitas yang benar-benar sukses,” ungkapnya dengan jujur. “Kemanapun kita pergi, orang melihat kita dari universitas mana. Jangan sampai tidak mencerminkan lulusan Widyatama.”

Heri memberikan perspektif yang lebih optimis: “Harapannya adalah siap dengan bab baru. Setiap fase memiliki petualangannya. Wisuda adalah akhir dari petualangan akademik. Setelah itu, ada petualangan baru yang positif. Jadi yang harus dipersiapkan adalah petualangan baru tersebut dengan semangat ‘wah, ini seru’,” tutupnya dengan antusias.

 

Penutup

Dengan desain barunya yang mengintegrasikan filosofi, identitas institusional, dan nilai-nilai akademik, toga akademik Universitas Widyatama kini berdiri sebagai lebih dari sekadar pakaian wisuda. Ini adalah simbol perjalanan panjang, hasil kerja keras mahasiswa, dedikasi dosen, dan dukungan orang tua.

Ketika mahasiswa menyimpan toga mereka setelah upacara, mereka menyimpan bukan hanya kain, tetapi saksi bisu dari pencapaian dan janji untuk terus berkembang—jembatan antara kehidupan akademik dan kehidupan nyata, pengingat bahwa setiap akhir adalah awal yang baru.

“Toga bukan hanya pakaian saat wisuda, tapi simbol pencapaian, kesuksesan, dan harapan.” – Heri Heryono, S.S., M.Hum

Penulis: Ardhzohal Roman Ario Bono

Sumber dan Referensi:

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *