NIHON SEKIGUN : Pasukan Hantu Merah dari Negara Rising Sun Jepang

Flag of the Japanese Communist Party ( https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Flag_of_the_Japanese_Communist_Party.svg )
Flag of the Japanese Communist Party ( https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Flag_of_the_Japanese_Communist_Party.svg )

sEntra, 02 April 2026 – Nihon Sekigun, atau Japanese Red Army (JRA), merupakan salah satu kelompok teroris sayap kiri paling berbahaya di era Perang Dingin, yang melakukan serangkaian serangan berdarah di berbagai benua demi visi revolusi komunis dunia. Kelompok ini tidak hanya mengguncang Jepang, tetapi juga meninggalkan dampak mendalam pada keamanan internasional melalui aliansi dengan kelompok Palestina dan operasi di Timur Tengah, Asia Tenggara, dan Eropa.

Flag of the Japanese Communist Party ( https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Flag_of_the_Japanese_Communist_Party.svg )
Flag of the Japanese Communist Party ( https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Flag_of_the_Japanese_Communist_Party.svg )

Latar Belakang

Jepang pasca-Perang Dunia II mengalami transformasi sosial-politik yang cepat pada 1960-an, ditandai dengan protes mahasiswa besar-besaran terhadap Perjanjian Keamanan Jepang-AS (Anpo) yang dianggap sebagai bentuk imperialisme Amerika. Gerakan Zengakuren, federasi serikat mahasiswa radikal, menjadi pusat radikalisme ini, dengan akar pada Liga Komunis Jepang (Kyosanshugisha Domei atau “Bund”) yang pecah dari Partai Komunis Jepang pada 1958 karena perbedaan ideologi anti-Stalinis dan Trotskyis.

Pada akhir 1960-an, perpecahan internal semakin dalam; faksi Sekigun-ha (Red Army Faction) dari Communist League mengadopsi taktik “revolusi melalui terorisme,” menyatakan perang terhadap negara pada September 1969. Pemimpin intelektual Takaya Shiomi ditangkap, memaksa kelompok mundur; sisa anggota bergabung dengan kelompok Maois membentuk United Red Army (Rengo Sekigun), yang terkenal dengan pembunuhan internalnya pada Insiden Asama-Sanso 1972. Konteks ini melahirkan Nihon Sekigun sebagai cabang transnasional yang menolak reformisme domestik demi perjuangan global.

 

Pembentukan & Ideologi

Nihon Sekigun secara resmi dibentuk pada Februari 1971 di Beirut, Lebanon, oleh Fusako Shigenobu seorang aktivis perempuan karismatik dari Sekigun-ha bersama Tsuyoshi Okudaira, setelah Shigenobu meninggalkan Jepang dengan segelintir pengikut. Shigenobu, yang dibesarkan dalam kemiskinan dan radikalisme di universitas, menghubungi Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP) melalui Wadie Haddad, mendapatkan pelatihan, senjata, dan dana dari Libya Muammar Gaddafi serta Suriah Ba’athis.

Ideologi JRA berbasis Marxis-Leninis anti-imperialis, menargetkan penggulingan monarki dan pemerintah Jepang sebagai basis imperialis AS, menuju “Revolusi Komunis Dunia” yang menyatukan orang tertindas Asia, Palestina, dan global. Mereka menerapkan “kode moral samurai” dalam taktik gerilya urban, menolak nasionalisme demi solidaritas internasional, dan bergantung pada PFLP untuk basis di Lebanon. Pada puncaknya, JRA memiliki sekitar 40 anggota, tapi dampaknya jauh melebihi ukurannya.

Peristiwa Penting (Key Events)

Seorang Sukdave Singh, saat itu berusia 29 tahun, terlihat dengan balutan perban tebal saat digiring menuju ambulans setelah ditembak di bawah mata kanannya oleh NIHON SEKIGUN, ketika ia mencoba menyelidiki adanya penyusup di gedung AIA. (Foto Sukdave Singh). ( https://www.freemalaysiatoday.com/category/leisure/2020/08/31/heartbreak-of-malaysian-hero-in-1975-japanese-red-army-hostage-crisis ) 
Seorang Sukdave Singh, saat itu berusia 29 tahun, terlihat dengan balutan perban tebal saat digiring menuju ambulans setelah ditembak di bawah mata kanannya oleh NIHON SEKIGUN, ketika ia mencoba menyelidiki adanya penyusup di gedung AIA. (Foto Sukdave Singh). ( https://www.freemalaysiatoday.com/category/leisure/2020/08/31/heartbreak-of-malaysian-hero-in-1975-japanese-red-army-hostage-crisis ) 

1972
Serangan JRA yang paling dikenal adalah pembantaian terhadap para penumpang di terminal Bandara Lod, Tel Aviv, Israel.

1974
JRA menyerbu Kedutaan Besar Prancis di Den Haag dan menyandera duta besar beserta 10 orang lainnya selama lima hari.

1975
Anggota JRA mencoba mengambil alih Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kuala Lumpur, Malaysia.

1986
JRA meledakkan bom mobil di luar Kedutaan Besar Kanada serta meluncurkan serangan roket ke Kedutaan Besar Amerika Serikat dan Jepang di Jakarta.

1987
JRA kembali melakukan serangan, kali ini berupa roket dan bom mobil yang menargetkan Kedutaan Besar Amerika Serikat dan Inggris di Roma.

1988
JRA mengebom fasilitas USO di Napoli, Italia, yang menewaskan lima orang.

1990
Serangan terakhir JRA yang terkonfirmasi adalah peluncuran roket rakitan yang menargetkan Istana Kekaisaran di Kyoto dan Tokyo.

 

Bubarnya NIHON SEKIGUN

Japanese Red Army founder and leader Shigenobu Fusako. sumber : https://www.foreignperspectives.net/p/how-terrorism-killed-leftism-in-japan
Japanese Red Army founder and leader Shigenobu Fusako. sumber : https://www.foreignperspectives.net/p/how-terrorism-killed-leftism-in-japan

Setelah berakhirnya Perang Dingin, JRA semakin terisolasi. Invasi Israel ke Lebanon pada tahun 1982 menghancurkan basis utama mereka, sementara runtuhnya Uni Soviet pada 1991 memutus dukungan ideologis sekaligus logistik yang selama ini mereka andalkan.

Tekanan terhadap organisasi ini pun semakin kuat. Penangkapan demi penangkapan mulai terjadi: lima anggotanya ditangkap di Lebanon pada 1997, lalu dideportasi ke Jepang pada 2000. Selain itu, anggota lainnya juga berhasil diamankan di berbagai negara seperti Romania, Peru, Bolivia, dan Swedia.

Puncak kemunduran terjadi pada 28 November 2000, ketika polisi Jepang berhasil menangkap Fusako Shigenobu di Osaka. Ia ditangkap setelah kembali ke Jepang menggunakan paspor palsu. Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 2006, ia dijatuhi hukuman 20 tahun penjara atas keterlibatannya dalam perencanaan serangan di Den Haag pada tahun 1974.

Dari balik penjara, Shigenobu kemudian menyatakan pembubaran JRA pada April 2001, yang diperkuat melalui “Deklarasi 30 Mei” di bulan berikutnya. Meski begitu, jejak gerakan ini tidak sepenuhnya hilang, karena kelompok-kelompok penerus seperti Rentai Movement tetap bermunculan.

Japanese Red Army founder and leader Shigenobu Fusako. sumber : https://www.foreignperspectives.net/p/how-terrorism-killed-leftism-in-japan 

Penulis : Salman Yahua Rusadi

Daftar Pustaka : 

https://unseen-japan.com/shigenobu-fusako-japanese-red-army-release-from-prison/ 

https://www.japantimes.co.jp/opinion/2000/11/14/editorials/jra-arrest-seals-the-end-of-an-era/ 

https://www.encyclopedia.com/politics/legal-and-political-magazines/japanese-red-army 

https://scholarbank.nus.edu.sg/entities/publication/cfd1f781-991d-41df-ab79-fa7ad40defb0 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *