Inklusif dimulai dari sini! Seminar Bahasa Isyarat SEMA FIB 2026 di Universitas Widyatama Hadirkan Pengalaman Nyata Belajar Bisindo dan Perjuangan Inklusivitas Bagi Komunitas Tuli Indonesia.

Proses Pelatihan belajar bahasa isyarat
Proses Pelatihan belajar bahasa isyarat

Penulis : Ardhzohal Roman Ario Bono

sEntra– Selasa, 12 Mei 2026, Di lantai enam Gedung B Universitas Widyatama, suasana siang itu terasa berbeda dari seminar pada umumnya. Selasa, 12 Mei 2026, puluhan mahasiswa berkumpul bukan hanya menyimak paparan, tetapi juga untuk belajar bahasa isyarat. Talkshow Seminar Bahasa Isyarat FIB 2026 dengan tema “Seeing Language, Hearing Meaning : Sign Language and Inclusion” resmi digelar, menegaskan bahwa inklusi bukan sekedar wacana.

Bacaan Lainnya

 

Lebih dari Sekedar Seminar tapi Seminar Bahasa Isyarat !
Acara yang digagas oleh Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (SEMA FIB) Universitas Widyatama ini bukan dirancang sebagai seminar biasa. Haidar Hilmi, Ketua Pelaksana sekaligus mahasiswa prodi Bahasa Inggris angkatan 2024, sejak awal ingin peserta pulang membawa lebih dari sekedar catatan. “Saya mau mahasiswa yang datang ke seminar itu pulangnya mendapatkan nilai-nilai, bisa bahasa isyarat sendiri, atau tahu etika-etika dalam berbahasa isyarat. Jadi bukan cuma materi yang ada di PPT.” tuturnya.

Foto proses peserta Pelatihan belajar bahasa isyarat
Foto proses peserta Pelatihan belajar bahasa isyarat

Seluruh kepanitiaan diisi oleh anggota SEMA FIB, dengan pembagian divisi yang disesuaikan dengan minat masing-masing, mulai dari tim media, acara, logistik, MC, hingga operator. Ruang Talagabodas di Gedung B lantai 6 dipilih karena kapasitasnya memadai dan tata letaknya yang fleksibel, ditambah lounge yang memungkinkan narasumber dan tamu menunggu dengan nyaman.

 

Untuk memastikan acara benar-benar inklusif, panitia menyediakan dua juru bahasa isyarat yang bertugas bergantian di setiap sesinya, serta menghadirkan instruktur Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia) yang menjelaskan asal-usul dan penggunaan bahasa isyarat kepada peserta.

 

Suara Dari Jendela Tuli Indonesia

Narasumber utama acara ini adalah Asri Anggraeni Putri, Ketua Yayasan Jendela Tuli Indonesia. Dalam sesi wawancara, ia menyampaikan bahwa misi yayasan yang ia pimpin bukan hanya soal edukasi, melainkan mendorong komunitas tuli untuk berani bersuara dan berkontribusi di ruang publik. “Tidak hanya berdiri di rumah saja, tapi bisa bersosialisasi dan mengembangkan kemampuannya. Dan juga supaya pemerintah lebih sadar, ternyata masyarakat tuli ini bisa lebih berani dalam bersuara dan berkolaborasi bersama.” tuturnya.

 

Titik balik perjalanan Asri dalam dunia advokasi bermula saat ia mengadvokasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Barat. Dari sana, ia menyaksikan betapa besarnya tantangan dan diskriminasi yang masih dihadapi komunitas tuli. Hal itu mendorongnya mendirikan Yayasan Jendela Tuli Indonesia agar advokasi bisa dilakukan secara menyeluruh, menjangkau masyarakat, pemerintah, hingga keluarga.

 

Yayasan Jendela Tuli Indonesia saat ini berpusat di Bandung Raya dan mulai merambah Jakarta. Bekasi disebut Asri sebagai salah satu daerah yang paling menantang, karena masih banyak pihak pemerintah setempat yang belum sepenuhnya sadar terhadap kebutuhan penyandang disabilitas.

 

Ia juga menekankan bahwa bahasa isyarat seharusnya tidak hanya dipelajari oleh komunitas tulu. Pemerintah, orang tua yang memiliki anak tuli, guru, dosen,hingga tenaga kesehatan semua memiliki tanggung jawab yang sama. Asri bahkan berharap bahasa isyarat bisa masuk ke dalam kurikulum nasional agar bisa diajarkan sejak usia dini. “Saya harap di Indonesia agar semuanya tercipta, bahkan bahasa isyarat ini harus masuk ke kurikulum nasional supaya bisa diajarkan dari sejak umur dini.” tambahnya.

 

Bagi mahasiswa yang berlatar belakang bahasa dan sastra, Asri punya pesan konkret : mulailah dari lingkungan kampus sendiri. Advokasi agar kampus bisa lebih inklusif, dorong hadirnya kelas, atau UKM bahasa isyarat adalah langkah awal yang menurutnya sangat berarti.

 

Resonansi Di Antara Peserta Seminar Bahasa Isyarat

Di antara puluhan peserta yang hadir, salah satunya adalah Gilang Alsundi, Mahasiswa Prodi Bahasa Inggris angkatan 2024. Ia mengakui bahwa kehadirannya bermula dari ajakan ketua pelaksana yang tak lain adalah temannya sendiri. Namun ketertarikan terhadap isuk komunitas tuli sesungguhnya sudah tumbuh sejak ia menonton sebuah film tentang penyandang tuli yang kerap dipandang sebelah mata. “Banyak orang menganggap bahwa orang dengan berkebutuhan khusus itu tidak bisa apa-apa, justru itu salah besar. Hak semua manusia itu sama, dan mereka juga berhak juga diperlakukan layaknya seperti kita.” ungkap Gilang.

Foto bersama peserta Pelatihan belajar bahasa isyarat
Foto bersama peserta Pelatihan belajar bahasa isyarat

Gilang berharap seminar ini tidak hanya menjadi pengalaman sekalilewat. Ia ingin pulang dengan komitmen nyata untuk lebih memanusiakan manusia dalam kehidupan sehari-harinya, sebuah frasa yang terasa menjadi benang merah dari seluruh acara hari itu.

 

Lebih Dari Satu Hari

Seminar ini memang hanya berlangsung satu hari, tapi pesan yang ditinggalkannya jelas: bahwa inklusivitas tidak bisa hanya berhenti di dalam ruang seminar. Dengan harga tiket Rp 10.000,00 per kursi, acara ini menjadi bukti bahwa membangung kesadaran soal komunitas tulu tidak selalu butuh panggung besar, cukup niat yang tulus dan ruang yang terbuka.

 

Peserta pulang dengan e-sertifikat dan pengalaman praktik Bisindo. Namun lebih dari itu, mereka pulang dengan pengingat bahwa di luar sana, ada komunitas yang selama ini berjuang agar suara mereka meski tidak terdengar tetapi tetap dipahami.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *